Categories
Kontemplasi

Bye & Hello, Instagram

Posting ini adalah bagian dari kata pengantar buku foto “Anicca” yang akan saya terbitkan secepatnya. Buku foto ini berisi perenungan personal saya tentang realitas sejati, yang pastinya sangat pribadi.

Tulisan ini saya buat dalam minggu-minggu awal saya mengambil jeda yang panjang dari aplikasi instagram. Tidak terasa sekarang sudah hampir dua bulan lebih tidak berekspresi lewat instagram, tapi malah bisa menulis lebih panjang dan lebih dalam, setelah blog ini saya aktifkan kembali (posting blog terakhir sebelum ini di tahun 2012!)

Inspirasi saya untuk cuti panjang dari Instagram pasti sudah bisa ditebak. Ya betul. Setelah menonton The Social Dillema di Netflix. Setelah itu ditambah saya langsung melahap buku dari Jaron Lanier, Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts Right Now. Cukup inspiratif dan insightful, dari kacamata Jaron yang juga memang adalah bagian dari “perancang” dunia digital & media social di Silicon Valley. Pada akhirnya saya memang tidak menghapus akun social media saya, namun ada kecerahan baru tentang media sosial itu sendiri, setelah mengambil jarak yang cukup jauh dari realitas semu tersebut.

Pada akhirnya, posting ini merupakan tanda, bahwa instagram saya akan aktif lagi. Namun kebebasan dari media sosial selama hampir dua bulan ini memberi bekal baru untuk saya, bagaimana untuk tetap bisa berekspresi dan terkoneksi, tanpa terlalu banyak memikirkan citra diri dan tidak terjebak lagi dalam realitas personal yang semu.

Sebenarnya instagram sudah berusaha untuk menyehatkan mental para penggunanya. Misalnya dengan menyembuyikan jumlah likes (stop feeding your ego!). Akui saja, bahwa jumlah likes & komentar (engagement) sering membuat kita malah mengekspresikan diri sesuai dengan apa yang orang mau lihat/sukai/komentari, bukan apa yang mau kita ekspresikan. Kolom komentar bisa di non-aktifkan (tidak perlu afirmasi dan tanggapan dari siapa pun tentang apa pun ekspresi dan pengalaman hidupmu).

Pada akhirnya, Instagram adalah media berekspresi visual lewat posting foto/video pendek di Instagram, belajar menulis teaser pendek dan kesimpulan (kemudian bagi yang tertarik bisa mengunjungi blog ini). Dan yang paling utama, Instagram memang adalah tempat untuk jualan (nanti saya akan jualan buku ini di Instagram juga hehe), baik jualan barang, jasa, maupun jualan citra diri.

Sadarlah, segala yang ada di media sosial bukan realita, segala aktifitas teman-teman, idola dan nemesismu adalah sesuatu yang dikonstruksi. Pencitraan semata. Lihat itu dengan sadar, amati saja realitas semu Instagram, kemudian tutup aplikasinya saat sudah selesai “jualan”. 😊


Rencana sampul buku.
Contact sheet. Sebentar lagi siap dicetak, diterbitkan dan dipasarkan oleh Gueari Galeri 😊

Kata Pengantar

Saya adalah seorang sutradara film dokumenter dari Jakarta, Indonesia. Melihat adalah pekerjaan dan profesi sehari-hari saya. Namun bahkan sulit bagi saya untuk melihat realitas sejati seperti apa adanya.

Di awal pandemi COVID-19, April 2020, saya beserta anak dan istri saya yang berwarga-negara Australia mengungsi ke Phillip Island, sebuah pulau kecil di selatan Australia. Jauh dari keriuhan Jakarta, kota kampung halaman saya yang berisikan 20 juta orang, sama dengan jumlah seluruh penduduk Australia.

Phillip Island yang hanya berisi 7.017 penduduk memberi kedamaian tersendiri bagi saya yang sangat terbiasa dengan kekacauan dan keramaian Jakarta.

Awalnya, sepi di Pulau Phillip memberikan saya banyak waktu untuk mengkontemplasikan hidup, dan mengekspresikan hasil perenungan saya lewat foto dan tulisan pendek di Instagram.

Buku fotografi ini tercetus saat saya sampai pada titik hening, di mana saya bisa melihat jelas betapa tidak relevan dan tidak pentingnya buah perenungan saya -dan setiap orang- untuk disebarkan dengan platfrom digital yang dangkal.

Pesan dan cerita saya sampai kepada masing-masing “followers”, dengan konteks yang sangat berbeda di feed personal masing-masing mereka. Feed (menyuapi)?

Personalisasi feed bertumpu pada algoritma, yang memanipulasi dan meretas kesadaran kita untuk menatap layar tersebut terus-menerus.

Algoritma merubah media sosial dan platform berbagi menjadi tempat untuk panjat sosial, sebaik dan setulus apapun intensi awal kita semua.

Sistem “followers”, jumlah “likes”, “engagement”, ” 24 hours story” perlahan-lahan merubah niatan untuk berekspresi dan membagikan buah pengalaman hidup menjadi cerobong sempit pembentuk citra diri.

Saya yakin pasti ada saja orang yang tetap tulus dan sadar seratus persen dengan apa yang mereka bagikan setiap harinya. Namun perangkap citra diri tetap mengintai. Perangkap untuk menyajikan persona diri ini sesuai seperti apa yang kita mau tampilkan, seperti apa yang mau dilihat para pengikut kita.

Esensi diri dipersempit menjadi sebuah citra, likes, following, followers, komentar dan interaksi tertulis dalam suatu platform di layar saku. Dan perlahan-lahan seluruh atensi hidup ini masuk pula ke dalam sebuah realitas baru, dimana segalanya hanya bisa terukur dengan jumlah dan angka.

Persis seperti masuk ke dalam dunia The Matrix, pemahaman akan realitas pun semakin ambigu. Manakah realitas sejati? Segala yang tersaji di feed saya, sudah menjadi sangat personal dan terpolarisasi akibat aktifitas-aktifitas digital saya yang membentuk sebuah algoritma yang akhirnya menyajikan hal yang itu-itu saja. Kabar, tokoh, teman dan opini yang “nyaman” untuk saya dengar. Pandangan dan nilai hidup yang relatif sama dengan yang saya anut.

Bagaimana dengan mereka yang sangat berbeda dengan saya? Bukahkah feed mereka pun penuh dengan kabar, tokoh, teman dan opini yang sama dengan nilai dan pandangan mereka?

Berapa banyak teman kamu saat ini yang menolak vaksin Covid-19? Atau berpendapat bahwa Covid-19 hanyalah hoax? Atau mungkin kamu justru orang yang sangat ketakutan dengan virus Covid-19? Feed media sosial kalian pasti sangat berbeda.

Seperti rasanya tidak cukup bahwa kita semua sedang berlomba dalam ilusi realita dimana setiap kita bisa diukur dengan uang, Media sosial hadir menjadi mata tukar uang baru. Berapa rupiah adalah sama dengan berapa followers, berapa komentar dan berapa views.

Namun, ada pil merah untk keluar dari The Matrix.

Untuk kembali ke saat ini, tidak terjebak dalam media sosial, dan menjalani kehidupan nyata adalah keluar dari The Matrix, keluar dari ilusi. Kembali belajar menjalani dan memahami realitas sejati.

Untuk keluar dari ilusi realitas personal menuju realitas sejati, kesadaran melihat dunia ini seperti apa adanya menjadi kunci. Kesadaran melihat realitas tanpa jebakan nilai dan prasangka, menjadi jalan paling mudah, paling universal, dan bebas dari doktrin ideologi apa pun.

Diri ini bukan hanya citra yang terbangun dan tersaji di dunia saku kita masing-masing.

Diri sejati tidak bisa terbatas oleh satu citra dan label diri. Contohnya beberapa label diri saya ini. Filmmaker, ayah, pengembara, guru homeschooling, juru masak, tukang kebun, juru kebersihan, meditator, penulis, fotografer, supir.

Apa pun.

Jalan menuju kebebasan ada di depan mata.

Memahami, mendengarkan diri yang tidak terbatas ini, adalah jalan paling singkat menuju realitas sejati.

Realitas yang tidak terbatas, dan tanpa diri.

By Mahatma Putra

Currently having a long vacation from social media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s